Tampilkan postingan dengan label Istri-istri Rasulullah SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istri-istri Rasulullah SAW. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2020

Maria binti Syama’un

Maria Al-Qibthiyah

Maria binti Syama’un atau Maria orang Koptik (bahasa Arab: مارية القبطية‎, Maria al-Qibthiyah; meninggal 637) adalah seorang budak Kristen Koptik yang dikirimkan oleh Muqawqis, penguasa Mesir bawahan Kerajaan Bizantium, sebagai hadiah kepada nabi Islam Muhammad pada tahun 628. Menurut sebagian tokoh Islam, ia juga merupakan istri Muhammad, dan "Ibu Orang-orang Beriman" (Ummul Mukminin).

sumber lain seperti Ibnul Qayyim menyatakan bahwa ia hanya seorang selir. Ia merupakan ibu dari putra Muhammad yang bernama Ibrahim, yang meninggal ketika masih kecil. Saudaranya, Sirin, juga turur dikirimkan pula, dan Muhammad kemudian memberikannya kepada penyair muslim Hassan bin Tsabit.

DARI MESIR KE YASTRIB

Tentang nasab Maria, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Maria binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hifna, di salah satu kawasan Anshana di Mesir.  Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agama Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersama saudara perempuannya, Sirin, Maria dipekerjakan pada Raja Muqauqis.

Pada tahun ke-7 H/628, Rasulullah saw mengutus Hatib bin Abi Balta'ah membawa surat ke Muqawqis raja Mesir dan Iskandariyah dan menyerunya masuk Islam.

Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Maria, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah.

Bersama hadiah-hadiah ini Muqawqis juga menulis surat untuk Nabi saw yang mana pada salah satu penggalannya ditulis: "Saya telah menyambut baik utusanmu dan saya mengirim dua budak perempuan untukmu dari bumi agung Qibth yang memiliki kedudukan tinggi".Diriwayatkan bahwa Hatib bin Abi Balta'ah dipertengahan jalan mengenalkan Islam kepada mereka berdua dan mereka menjadi muslim.

Tabari, menceritakan kedatangan Maria dari Mesir sebagai berikut:

Pada tahun ini, Hātib b. Abi Balta'ah kembali dari Al-Muqawqis membawa Māria dan saudaranya Sīrīn, bagal betinanya Duldul, dan keledainya Ya'fūr, dan pakaian-pakaian. Bersama dua wanita Al-Muqawqis, telah dikirimkan kepadanya seorang kasim, dan surat tersebut ada padanya. Hātib telah mengajaknya masuk Islam sebelum akhirnya tiba bersama mereka, dan begitu pula Māria saudaranya. Rasulullah menempatkan mereka untuk sementara dengan Ummu Sulaym binti Milhān. Māria sangat cantik. Nabi mengirim saudaranya Sīrīn kepada Hassān bin Tsābit dan ia melahirkan 'Abdul Rahmān bin Hassān.
— Tabari, Tarikh at-Tabari.

Rasulullah telah menerima kabar penolakan Muqawqis dan hadiahnya. Ia mengambil Mariya untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir itu sehingga Rasulullah menitipkan Mariya di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah masjid, Selama satu tahun ia menetap di rumah tersebut. 

Banyak sumber Muslim mengatakan bahwa Muhammad kemudian memerdekakan dan menikahi Maria, namun ini tidak jelas apakah ini fakta historis atau apologi. Budak tidak secara otomatis merdeka karena masuk Islam, sehingga tidak begitu jelas apakah Mariah dimerdekakan atau tidak.

Mariya adalah perempuan suci, agamis, dan termasuk wanita-wanita salehah, dermawan, layak dan menarik hati Nabi saw. Sejarawan dan pengamat sejarah memuji kesalihannya. Dalam menunjukkan kecintaan kepadanya, Nabi saw berkata: "Disaat kamu menguasai Mesir, berlaku baiklah terhadap mereka, sebab aku mempelai mereka".

TURUNNYA SURAT AT-TAHRIM

Suatu hari di hari gilirannya, Hafsah menemui Rasulullah saw dan minta izin pergi untuk satu pekerjan disisi ayahnya. Nabi saw mengiyakannya. Setelah Hafsah pergi, Nabi saw memanggil Mariya. Saat Hafsah kembali ke rumah, pintu dalam keadaan tertutup dan ia duduk di luar pintu. Ketika melihat Nabi saw bersama Mariya ia langsung marah dan berlaku kasar kepada Nabi. Untuk mendapatkan keridhaan Hafsah, Nabi mengharamkan Mariya untuk dirinya dan meminta dari Hafsah supaya menyembunyikan masalah tersebut. Pada saat itu, turunlah ayat pertama dari surah At-Tahrim yang berisi firman Allah swt kepada Nabi Muhammad saw:

“Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (Q.S. At-Tahriim:1)

Aisyahpun cemburu kepada Mariya, ini ungkapan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariya karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh, itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”

KELAHIRAN IBRAHIM

Dikatakan bahwa Mariya adalah satu-satunya wanita selain Khadijah yang mempunyai anak dari Nabi saw. Mariah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati.

Selang beberapa waktu setelah Mariya menetap di rumah barunya, lahir Ibrahim putra Rasul saw pada bulan Dzulhijjah tahun 8 H/629 dan Jibril turun serta mengucapkan salam kepada beliau dengan sebutan 'wahai Aba Ibrahim'. Diceritakan bahwa Rasulullah gembira setelah kelahiran Ibrahim dan menunjukkannya kepada Aisyah sembari berkata: "Lihat bayi ini, betapa miripnya denganku".

Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Maria bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malam, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariya. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”

Tanpa dia sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, dia kembali bersabda, “Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan perintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”

Demikianlah keadaan Nabi ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, dia tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian Rasulullah menguburkannya di Baqi’.

SAAT WAFATNYA

Setelah Rasulullah wafat, Mariya hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Mariya wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu di bulan Muharram tahun 16 H/637 M atau pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah  Mariya al-Qibtiyah dan dimakamkan di Baqi', Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.





Selasa, 19 Desember 2017

Shafiyah binti Huyay

Shafiyah binti Huyay

Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi, nama lengkapnya Shafiyah binti Huyay bin Akhthab (sekitar 610 M - 670 M), la adalah putri pemimpin terbesar kaum Yahudi Bani Quraizhah dan bani nadhir salah satu Bani Israel yang bermukim di sekitar Madinah, Huyai bin Akhthab.

~ Genealogi

Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin Nadhir bin al-Kham bin Yakhurn, termasuk keturunan Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Israel bin Ishaq bin Ibrahim. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Shafiyyah dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah, atau dua tahun setelah masa kenabian Muhammad.

~ Kehidupannya

Shafiyah telah menjanda sebanyak dua kali, karena dia pernah menikah dengan dua orang keturunan Yahudi yaitu Salam bin Abi Al-Haqiq (dalam kisah lain dikatakan bernama Salam bin Musykam), salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah, namun rumah tangga mereka tidak berlangsung lama. Kemudian suami keduanya bernama Kinanah bin Rabi' bin Abil Hafiq, ia juga salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah yang diusir Rasulullah dalam Perang Khaibar, pada saat pasukan kaum muslim berhasil mengalahkan benteng pertahanan terakhir suku Yahudi di Khaibar. Huyay bin Akhthab mati terbunuh dalam peperangan itu. Sementara putrinya, Shafiyah, tertangkap dan menjadi salah satu tahanan perang. Dalam satu perundingan Shafiyah diberikan dua pilihan yaitu dibebaskan kemudian diserahkan kembali kepada kaumny atau dibebaskan kemudian menjadi isteri Muhammad.

Sejak kecil dia menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci Taurat dia membaca bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi penutup semua nabi. Pikirannya tercurah pada masalah kenabian tersebut, terutama setelah Muhammad muncul di Mekkah. Dia sangat heran ketika kaumnya tidak mempercayai berita besar tersebut, padahal sudah jelas tertulis di dalam kitab mereka sendiri. Demikian juga ayahnya, Huyay bin Akhtab, yang sangat gigih menyulut permusuhan terhadap kaum Muslim.

Sifat dusta, tipu muslihat, dan pengecut ayahnya sudah tampak di mata Shafiyyah dalam banyak peristiwa. Di antara yang menjadi perhatian Shafiyyah adalah sikap Huyay terhadap kaumnya sendiri, Yahudi Bani Qurayzhah. Ketika itu, Huyay berjanji untuk mendukung dan memberikan pertolongan kepada mereka jika mereka melepaskan perjanjian tidak mengkhianati kaum Muslim (Perjanjian Hudaibiyah). Akan tetapi, ketika kaum Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut, Huyay melepaskan tanggung jawab dan tidak menghiraukan mereka lagi. Hal lain adalah sikapnya terhadap orang-orang Quraisy Mekah. Huyay pergi ke Mekah untuk menghasut kaum Quraisy agar memerangi kaum Muslim dan mereka menyuruhnya mengakui bahwa agama mereka (Quraisy) lebih mulia daripada agama Muhammad, dan Tuhan mereka lebih baik daripada Tuhan Muhammad.

~ Penaklukan Khaibar dan Penawanannya

Perang Khandaq telah membuka tabir pengkhianatan kaum Yahudi terhadap perjanjian yang telah mereka sepakati dengan kaum muslimin. Muhammad segera menyadari ancaman yang akan menimpa kaum muslimin dengan berpindahnya kaum Yahudi ke Khaibar kernudian membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum muslimin.

Setelah perjanjian Hudaibiyah disepakati untuk menghentikan permusuhan selama sepuluh tahun, Muhammad merencanakan penyerangan terhadap kaum Yahudi, tepatnya pada bulan Muharam tahun ketujuh hijriah. Muhammad memimpin tentara Islam untuk menaklukkan Khaibar, benteng terkuat dan terakhir kaum Yahudi. Perang berlangsung dahsyat hingga beberapa hari lamanya, dan akhirnya kemenangan ada di tangan umat Islam. Benteng-benteng mereka berhasil dihancurkan, harta benda mereka menjadi harta rampasan perang, dan kaum wanitanya pun menjadi tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat Shafiyyah, putri pemimpin Yahudi yang ditinggal mati suaminya.

Bilal membawa Shafiyyah dan putri pamannya menghadap Muhammad. Di sepanjang jalan yang dilaluinya terlihat mayat-mayat tentara kaumnya yang dibunuh. Hati Shafiyyah sangat sedih melihat keadaan itu, namun ia tetap bersikap tenang dan diam, tidak seperti putri pamannya yang terus meratap, merobek-robek baju dan menaburkan pasir dikepalannya, seperti yang dilakukan kebanyakan kaum wanita di tempatnya. Apalagi jika mengingat bahwa dirinya menjadi tawanan kaum muslimin. Muhammad memahami kesedihan yang dialaminva, kemudian ia bersabda kepada Bilal, “Sudah hilangkah rasa kasih sayang dihatimu, wahai Bilal, sehingga engkau tega membawa dua orang wanita ini melewati mayat-mayat suami mereka?” Muhammad memilih Shafiyyah sebagai istri setelah terlebih dahulu menawarkan untuk memeluk agama Islam kepadanya dan kemudian Shafiyyah menerima tawaran tersebut.

Rasulullah memberikan pilihan kepada Shafiyah, apakah ingin dimerdekakan, kemudian akan dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup di Khaibar, ataukah ingin masuk Islam kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Shafiyah memilih untuk masuk Islam dan menikah dengan beliau, dengan maskawin kemerdekaannya.

Pada saat itu, Shafiyah berkata kepada Rasulullah, “Ya Nabiyullah, aku memilih Islam dan aku telah percaya kepadamu sebelum engkau mendakwahiku. Aku sudah telah sampai pada perjalananmu. Aku tidak memiliki kepentingan dengan orang Yahudi. Aku tidak memiliki ayah, dan tidak memiliki saudara yang merdeka. Aku lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada dimerdekakan untuk kembali ke kaumku”.

Ungkapan hati Shafiyah ini menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasannya. Shafiyah menjadi salah satu Ummul Mukminin dan itu merupakan kehormatan yang besar.

Seperti telah dikaji di atas, Shafiyyah telah banyak memikirkan Muhammad sejak dia belum mengetahui kerasulan dia. Keyakinannya bertambah besar setelah dia mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Anas berkata, “Rasulullah ketika hendak menikahi Shafiyyah binti Huyay bertanya kepadanya, ‘Adakah sesuatu yang engkau ketahui tentang diriku?’ Dia menjawab, ‘Ya Rasulullah, aku sudah rnengharapkanrnu sejak aku masih musyrik, dan memikirkan seandainya Allah mengabulkan keinginanku itu ketika aku sudah memeluk Islam.” Ungkapan Shafiyyah tersebut menunjukkan rasa percayanya kepada Muhammad dan rindunya terhadap Islam.

Bukti-bukti yang jelas tentang keimanan Shafiyyah dapat terlihat ketika dia memimpikan sesuatu dalam tidurnya kemudian dia ceritakan mimpi itu kepada suaminya. Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya marah dan menampar wajah Shafiyyah sehingga berbekas di wajahnya. Muhammad melihat bekas di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

~ Masa Pernikahannya (Menjadi Ummu al-Mukminin)

Muhammad menikahi Shafiyyah dan kebebasannya menjadi mahar perkawinan dengannya. Pernikahan Muhammad dengan Shafiyyah didasari beberapa landasan. Shafiyyah telah mernilih Islam serta menikah dengan Muhammad ketika ia memberinya pilihan antara memeluk Islam dan menikah dengan dia atau tetap dengan agamanya dan dibebaskan sepenuhnya. Ternyata Shafiyyah memilih untuk tetap bersama Muhammad, Selain itu, Shafiyyah adalah putri pemimpin Yahudi yang sangat membahayakan kaum muslim, di samping itu, juga karena kecintaannya kepada Islam dan Muhammad.

Muhammad menghormati Shafiyyah sebagaimana hormatnya Ia terhadap istri-istri yang lain. Akan tetapi, istri-istri Muhammad menyambut kedatangan Shafiyyah dengan wajah sinis karena dia adalah orang Yahudi, di samping juga karena kecantikannya yang menawan. Akibat sikap mereka, Muhammad pernah tidak tidur dengan Zainab binti Jahsy karena kata-kata yang dia lontarkan tentang Shafiyyah. Aisyah bertutur tentang peristiwa tersebut, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba unta Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih. Rasulullah berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau memberikan salah satu dan untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi kepada seorang perempuan Yahudi?’ Akhirnya, dia meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah dan Muharam. Artinya, dia tidak mendatangi Zainab selama tiga bulan. Zainab berkata, ‘Sehingga aku putus asa dan aku mengalihkan tempat tidurku.” Aisyah mengatakan lagi, “Suatu siang aku melihat bayangan Rasulullah datang. Ketika itu Shafiyyah mendengar obrolan Hafshah dan Aisyah tentang dirinya dan mengungkit-ungkit asal usul dirinya. Betapa sedih perasannya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis. Rasulullah menghiburnya, ‘Mengapa tidak engkau katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa.” Di dalam hadits riwayat Tirmidzi juga disebutkan, “Ketika Shafiyyah mendengar Hafshah berkata, ‘Perempuan Yahudi!’ dia menangis, kemudian Muhammad menghampirinya dan berkata, ‘Mengapa engkau menangis?’ Dia menjawab, ‘Hafshah binti Umar mengejekku bahwa aku wanita Yahudiah.’ Kemudian Muhammad bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu adalah nabi, dan kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang dia banggakan kepadamu?’ Muhammad kemudian berkata kepada Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, Hafshah!”

Salah satu bukti cinta Shafiyyah kepada Muhammad terdapat pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalarn Thabaqta-nya tentang istri-istri Nabi yang berkumpul menjelang dia wafat. Shafiyyah berkata, “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, dia berkata, “Berkumurlah!” Dengan terkejut mereka bertanya, “Dari apa?” Dia menjawab, “Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”

Setelah Muhammad wafat, Shafiyyah merasa sangat terasing di tengah kaum muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dan Yahudi, tetapi dia tetap komitmen terhadap Islam dan mendukung perjuangan Muhammad. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, dia berada di barisan Utsman. Selain itu, dia pun banyak meriwayatkan hadits Nabi.

Shafiyyah r.a wafat tahun 50 H tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu'awiyahbin Abi Sufyan . Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian beliau dikuburkan di Baqi' bersama Ummuhatul Mukminin lainnya. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Wallahu'alam

Senin, 18 Desember 2017

Zainab Binti Jahsy ra

Zainab binti Jahsy bin Ri`ab al-Asadiyyah atau lebih dikenal dengan Zainab binti Jahsy (lahir pada tahun 33 Sebelum H/590, Zainab dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn kenabian. Wafat di Madinah pada tahun 20 H/641) adalah sepupu dan istri dari Nabi Muhammad , termasuk dari Ibu Para Mukminin. Awalnya beliau bernama Barrah, kemudian setelah menikah dengan Rasulullah, namanya diganti menjadi Zainab. Zainab binti Jahsyi r.a. adalah satu-satunya wanita yang dinikahkan Rasulullah atas perintah Allah.

Zainab dikenal sebagai seorang wanita yang diberkahi karena yang temasuk lebih dahulu masuk Islam, ikut berjihad dan berhijrah, yang sabar serta zuhud. Abu Nua’im Al-Asybahany memulai biografi shahabiyahnya, dalam “Al-Hilyah”, berkata: “dia adalah seorang wanita yang khusyu”.

Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamaiku dalarn kedudukannya di hati Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya daripada Zainab. Dia sangat bertakwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka menyambung tali silaturahmi, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dia yang memiliki tabiat yang keras.”

~ Nasab dan keluarganya.

* Ayahnya: Jahsyi bin Ri`ab bin Yu'ammar bin Shabrah bin Kabir bin Ghanam bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Jahsyi adalah sekutu bagi pembesar Quraisy, Abdul Muthalib.[1]
* Ibunya: Umaimah binti Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Umaimah adalah bibi dari Nabi Muhammad.
* Saudaranya adalah pembawa bendera yang pertama kali dikibarkan dalam Islam dan orang yang pertama kali dipanggil Amirul mukminin, juga salah seorang syuhada’ yaitu, Abdulah bin jahsyi r.a. Saudaranya yang lain adalah penyair Islam, yaitu Abu-Ahmad bin Jahsyi dan saudara perempuanya termasuk wanita yang terlebih dahulu masuk Islam, yaitu Humnah binti Jahsyi (isteri Mushab bin umair) dan Ummu Habib binti Jahsy (isteri Abdurrahman bin Auf).

~ Kehidupannya

Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak heran jika orang-orang Quraisy rnenyebutnya dengan perempuan Quraisy yang cantik.

Zainab termasuk wanita pertarna yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Ketika itu dia masih gadis walaupun usianya sudah layak menikah.

~ Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah

Ketika Islam yang hanif datang, diantara tujuannya adalah menghilangkan perbedaan antara ummat manusia yang didasarkan pada suatu fanatisme dan kebutaan jahiliyah, menjadi tidak ada kelebihan yang dimiliki seseorang kecuali dengan takwa. Jadi, takwa merupakan timbangan Islam, dan Nabi Muhammad SAW ingin mengimplementasikan timbangan ini dengan mewujudkan persamaan antara manusia secara praktis. Diantara salah satu caranya ialah dengan menikahkan Zainab binti Jahsy r.a. yang masih terhitung kerabat dekat beliau dengan mantan budak, anak angkat beliau sendiri yaitu Zaid bin Haritsah r.a. dengan begitu perbedaan-perbedaan itu dapat disingkirkan. Beliau menyampaikan hal tersebut kepada Zainab dan melamarkannya untuk Zaid bin Haritsah r.a.

Zaid adalah orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak. Dia senantiasa berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan Mekah, sehingga beliau sangat mencintainya, bahkan beliau pernah bersabda tentang Zaid,

“Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)

Allah telah memberikan nikmat kepada Zaid dengan keislamannya dan Nabi telah memberinya nikmat dengan kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Zaid dengan Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam banyak peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan tidak jarang pula dia ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang Zaid, Aisyah pernah berkata, “Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan perang kecuali selalu menjadikannya sebagai komandan pasukan, Seandainya dia tetap hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti beliau.”

Semula Zainab membenci Zaid dan menentang menikah dengannya, begitu juga dengan saudara laki-lakinya. Menurut mereka, bagaimana mungkin seorang gadis cantik dan terhormat menikah dengan seorang budak? Rasulullah menasihati mereka berdua dan menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau, sehingga turunlah ayat kepada mereka:

“Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik. Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliah yang senang membanggakan diri dan keturunan.

Seperti yang kita ketahui Zainab berasal dan golongan terhormat, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak Rasulullah yang sangat beliau sayangi, sehingga kaum muslimin menyebutnya sebagai orang kesayangan Rasulullah. Zaid berasal dari keluarga Arab yang kedua orang tuanya beragama Nasrani. Ketika masih kecil, dia berpisah dengan kedua orang tuanya karena diculik, kemudian dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid r.a., lalu dihadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil, senantiasa mencarinya hingga dia mendengar bahwa Zaid berada di rumah Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid memilih antara tetap bersama beliau atau kembali pada orang tua dan pamannya, Zaid berkata, “Aku tidak menginginkan mereka berdua, juga tidak menginginkan orang lain yang engkau pilihkan untukku. Engkau bagiku adalah ayah sekaligus paman.” Setelah itu, Rasulullah mengumumkan pembebasan Zaid dan pengangkatannya sebagai anak. Dia senantiasa berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan Mekah.

Kehidupan rumah tangga Zaid dan Zainab berlangsung selama setahun, kemudian muncullah perselisihan di antara mereka, apalagi setelah Islam menghapuskan status anak angkat. Hal ini menyebabkan Zainab merasa lebih tinggi daripada Zaid, maka semakin hari hubungan mereka semakin tidak harmonis.

Di depan Zaid, Zainab selalu membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk mengadukan perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruhnya untuk bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.

Mendengar itu, beliau bersabda, “Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah kepada Allah.” Kemudian beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu merupakan perintah Allah. Beberapa saat kemudian turunlah ayat, “Pertahankan terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha menenangkan din dan bersabar, namun tingkah laku Zainab sudah tidak dapat dikendalikan, akhirnya terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab dinikahi Rasulullah.

Rasulullah SAW menyadari bahwa perceraian antara keduanya memang harus terjadi dan Allah memerintahkan beliau untuk menikahi Zainab dalam rangka menghapus bid’ah anak angkat. Jibril sebelumnya sudah memberitahukan, bahwa Zainab akan menjadi isteri beliau dan Allah akan menggugurkan pernikahan Zaid dengan Zainab, dalam rangka menghapus tradisi jahiliyah.

Rasulullah merasakan tekanan tersendiri karena masalah ini pasti akan menjadi pusat gunjingan, karena Muhammad SAW telah menikahi mantan isteri anak angkatnya. Beliau merasa bimbang karena hal ini, dan khawatir terhadap isu yang akan disebarkan orang-orang munafik serta Yahudi. Namun Allah menegur beliau akan perasaan ini, dan memerintahkan beliau agar tidak usah menghiraukan orang-orang yang suka menggunjing tentang apa yang dihalalkan Allah.

Prinsip dasar yang melatarbelakangi pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah. Artinya, Rasulullah ingin menjelaskan bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah yang sebelum turun ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,’ itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab:5)

Karena itu, seseorang tidak berhak mengakui hubungan darah dan meminta hak waris dan orang tua angkat (bukan kandung). Karena itulah Rasulullah menikahi Zainab setelah bercerai dengan Zaid yang sudah dianggap oleh orang banyak sebagai anak Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar Zaid menceraikan istrinya kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada mulanya Rasulullab tidak memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta Zaid mempertahankan istrinya. Karena itulah turun wahyu yang menampakkan sebab pernikahan Nabi saw dengan Zainab,

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, ‘sedang kamu menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak- anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)

Ayat di atas merupakan perintah Allah agar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Zainab dengan tujuan meluruskan pemahaman keliru tentang kedudukan anak angkat.

~ Menjadi Ummul-Mukminin

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengutus seseorang untuk mengabari Zainab tentang perintah Allah tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar berita tersebut, dan pesta pernikahan pun segera dilaksanakan serta dihadiri warga Madinah.

Zainab mulai memasuki rurnah tangga Rasulullah dengan dasar wahyu Allah. Dialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dan kerabat dekatnya. Rasulullah tidak perlu meminta izin jika memasuki rumah Zainab sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau selalu meminta izin. Kebiasaan seperti itu ternyata menimbulkan kecemburuan di hati istri Rasul lainnya.

Zainab berkata kepada Nabi, “Aku adalah istrimu yang terbesar haknya atasmu, aku utusan yang terbaik di antara mereka, dan aku pula kerabat paling dekat di antara mereka. Allah menikahkanku denganmu atas perintah dan langit, dan Jibril yang membawa perintah tersebut. Aku adalah anak bibimu. Engkau tidak memiliki hubungan kerabat dengan mereka seperti halnya denganku.” Zainab sangat mencintai Rasulullah dan merasakan hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi, dia sangat pencemburu terhadap istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah pernah tidak tidur bersamanya selama dua atau tiga bulan sebagai hukuman atas perkataannya yang menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.

Zainab bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan hasilnya diinfakkan di jalan Allah.

~ Ayat Hijab

Diantara barakah Zainab ummul mukminin r.a. dan keutamaanya adalah turunnya ayat hijab, Al-Bukhori dan Al-Muslim serta yang lainya meriwayatkan kisah turunnya ayat hijab dari anas bin Malik r.a, beliau berkata: “Walimah Rasulullah SAW dengan Zainab berupa roti dan daging. Aku diutus untuk menyampaikan undangan, aku terus menyampaikan undangan sampai aku tidak lagi mendapatkan undangan, yang ada hanyalah tiga orang yang sedang berbincang-bincang. Maka Rasulullah keluar dan pergi ke bilik isteri-isteri beliau dan mengucapkan “Assalamualaikum ya ahlal bait rahmatullah” kemudian mereka menjawab “Allaikas-salam wa rahmatullah”. Kemudian Nabi SAW kembali ke rumah, ternyata tiga orang tersebut masih berada di sana sambil berbincang-bincang. Kemudian Nabi keluar lagi sampai ia mendapat kabar bahwa mereka sudah pergi, maka beliau kembali lagi, dan ketika beliau melangkahkan kaki di ambang pintu, yang satu di luar dan yang satu di dalam beliau menjulurkan kain tabir antara diriku dan beliau. Lalu turun ayat hijab, yaitu firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali kalian diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kalian diundang maka masuklah, dan bila kamu selesai makan keluarlah kamu tampa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepada kalian (untuk menyuruh kalian), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi) maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikan itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Dan tidak boleh kalian menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak pula mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatannya amat besar (dosanya) di sisi Allah. (Al- Ahzab : 53).

Ayat hijab turun sebagai pelajaran dan petunjuk bagi manusia, agar mereka tidak masuk rumah Nabi SAW tanpa izin. Jika mereka diundang untuk makan, maka mereka boleh memasukinya, kemudian jika sudah makan, mereka harus segera pergi, tidak boleh berlama-lama di sana dan juga tidak boleh berbincang-bincang.
Turunnya ayat hijab itu karena pengakuan terhadap sikap Umar bin Al-Khaththab r.a. Dalam riwayat Al-Bukhory dari Anas bin Malik: Umar berkata, “Wahai Rasullullah, orang yang baik dan buruk masuk rumah engkau. Sekiranya engkau menyuruh Ummahatul-Mukminin untuk berhijab”. Karena itulah turun ayat ini.

Di dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad menyebutkan dari Anas, dia berkata, “Pertama kali turun ayat hijab saat pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy. Hal itu terjadi pada tahun kelima setelah hijrah. Semenjak itu Rasulullah memberlakukan hijab terhadap istri- istri beliau. Pernikahan beliau dengan Zainab merupakan barakah atas wanita-wanita Muslimah hingga hari kiamat, karena hijab diwajibkan atas putri- putri hawa, agar menjadi petunjuk kemuliaan, kesucian dan kebersihan.

~ Bersama Rasulullah Dalam Peperangan dan Haji

Ketika Rasulullah pergi ke Tha’if beliau disertai dua istri beliau, yaitu Ummu Salamah dan Zainab R.a. Pada saat itu beliau mendirikan dua perkemahan, lalu beliau shalat di antara dua perkemahan tersebut, selama beliau melakukan pengepungan terhadap Tha’if.

Ketika haji wada’, Zainab Ummul-Mukminin r.a. juga ikut bersama Rasulullah. Pada saat itu beliau bersabda kepada para istri-istri beliau, “Sejak saat ini kalian tidak keluar lagi dari rumah dan hendaklah kalian berada di atas tikar saja”. Pada saat itu semua istri beliau ikut menunaikan haji kecuali Saudah binti Zum’ah.

Zainab bintu Jahsy berkata, “Tidak ada hewan tunggangan yang dapat menggerakkan kami sepeninggal Rasulullah SAW”. Ibnu Sa’ad menyebutkan di dalam Ath-Thabaqat, dengan sanadnya, dia berkata, “Zainab binti Jahsy tidak pernah lagi menunaikan haji setelah dia ikut menunaikan haji bersama Rasulullah, hingga dia meninggal dunia. Zainab menyadari wasiat Rasulullah ketika beliau bersabda kepada para istri beliau, “Siapa pun di antara kalian yang bertakwa kepada Allah dan tidak melakukan kekejian yang nyata, tetap berada di dalam rumahnya, maka dia adalah istriku di akhirat”.

~ Kemuliaan dan kezuhudan Zainab bintu Jahsy

Beliau bukanlah tipe orang yang suka menumpuk harta atau apapun dari kesenangan dunia. Dia melakukan segala pekerjaanya sendiri, menyamak kulit, menjahit lalu menjualnya serta menshadaqahkan hasilnya di jalan Allah. Yang paling meunjukkan kemuliaanya adalah do’anya, di samping zuhudnya dalam masalah harta sebanyak apapun harta yang ada ditangannya. Diceritakan oleh Barzah bintu Raf’i dia berkata, “Ketika pembagian harta harus disalurkan, maka Umar Al-Khattab mengirim utusan untuk memberikan bagian untuk Zainab, ketika bagian itu sudah sampai kepada Zainab maka dia berkata, “Semoga Allah mengampuni Umar. Saudari-saudariku yang lain lebih membutuhkan bagian ini dari pada diriku”, kemudian para utusan itu bekata, ”ini semua memang menjadi milik engkau”, Zainab berkata ”Subhanallah”. Dia memasang kantong kain dan berkata, “Tumpahkan harta itu disini” kemudian berkata kepadaku “Masukkan tanganmu dan ambil segenggam harta ini lalu pergilah kebani fulan dan bani fulan”. Dia menyebut beberapa orang kerabat dan anak-anak yatim mereka, maka yang tersisa di dalam kain itu hanya sedikit harta. Aku berkata, “Semoga Allah mengampuni engkau wahai Ummul-Mukminin. Demi Allah kita juga memiliki hak terhadap harta ini”. Kemudian Zainab berkata, “Kalian berhak mendapatkan apa yang menyisa di bawah kain itu”. Ternyata yang tersisa hanya delapan puluh lima dirham, lalu dia menengadahkan tangan ke langit dan berkata, “Ya Allah, semoga aku tidak mau lagi menerima pemberian dari Umar setelah tahun ini”, maka pada tahun itu pula Zainab meninggal dunia.

Sebagai tambahan gambaran kezuhudan Zainab, ada riwayat Ibnu Sa’d dalam thabaqaatnya berkata, “Zainab binti Zahsy r.a. tidak pernah meningalkan satu dirhampun, dia mensadaqahkan apapun yang ada ditangannya, sehingga dia menjadi tempat berlindung orang-orang miskin.

~ Wafat

Pada tahun ke-20 H bertepatan dengan 641 M, Zainab Ummul Mukminin r.a. merasakan dekatnya saat untuk bersua dengan Allah, dan dia selalu siap untuk perjumpaan yang diberkahi ini, maka ketika ajal menghapirinya dia berkata, “Aku sudah menyiapkan kain kafanku, dan pasti Umar akan mengirimkan kain kafan kepadaku, maka jika dia mengirimkanya untukku maka shadaqahkanlah salah satu diantaranya. Jika kalian mampu menjulurkan kain kafan ke seluruh jasadku, lalu kalian mensadaqahkan kain selimutku, maka lakukanlah”.

Zuhud di dunia dan kesenangannya untuk bershadaqah dan berbuat kebajikan nampak pada saat-saat sakaratul maut. Alangkah mulia ummul mukminin Zainab binti Jahsy, dia adalah ibu orang-orang miskin, semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha. Pada detik-detik terakhir itu dia berwasiat agar jasadnya diusung dengan dipan Rasulullah SAW, dan setelah itu dia menutup mata untuk selama-lamanya. Dia adalah isteri Nabi SAW yang pertama kali bersua dengan beliau.

Ketika kabar kematianya sampai kepada Umar, maka dia berseru, “ketahuilah, tidak boleh ada yang masuk ke rumah Zainab kecuali kaum kerabatnya sendiri”. Umar juga memerintahkan agar memasang tabir penutup. Asma binti Umais r.a. berkata, “Aku pernah melihat penduduk Habasyah biasa membuat usungan mayat. Maka dibuatlah usungan mayat bagi Zainab, lalu usungan itu diselimuti kain, Umar melihat hal itu bagus, maka dia berkata, “Ini adalah tandu tertutup yang paling bagus”. Barulah setelah itu Umar menyuruh orang-orang, “Pergilah kalian ke rumah ibu kalian!”. Maka orang-orang muslim mengiringi jenazah Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy r.a. beserta saudaranya, Abu Ahmad bin Jahsy r.a. ikut mengusung dipan saudarinya

Al-Imam An-Nawai Rahimahullah menyebutkan bahwa Zainab dikuburkan di baqi’. Yang menjadi Imam ketika menshalatinya ialah Umar bin khattab, yang turun ke dalam kuburnya adalah Usamah bin zaid, Muhammad bin abdullah bin Jahsy, Abdullah bin Ahmad bin Jahsy dan Muhammad bin Talhah bin Abdullah, anak saudarinya Humnah, mereka semua termasuk mahram Zainab r.a. Saat meninggal dunia, Zainab berusia lima puluh tiga tahun. An-Nawawi dan Al-Asykari dan lainya menyebutkan bahwa Zainab r.a. merupakan wanita yang pertama kali dibuatkan usungan jenazah, berdasarkan apa yang diisyaratkan Asma’ binti Umais r.a.

~ Kabar gembira masuk surga

“Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukanya kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar”. (Q.S An-Nissa : 13).

Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy r.a. menjalani hidup jauh dari kemewahan dunia, dia lebih mengutamakan kehidupan akhirat, dia menjadikan kehidupan di dunia sebagai tempat untuk bercocok tanam untuk di akhirat dan menyadari bahwa dunia ini tidak dapat menyamai satu sayap lalatpun di sisi Allah, karena itu Dia beralih ke kehidupan beribadah dan mengasingkan diri, khususnya setelah wafat Rasulullah SAW.

Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy mendapatkan kabar gembira sebagai penghuni surga dari Rasulullah SAW, karena dialah istri beliau yang pertama kali bersua dengan beliau di surga setelah beliau wafat. Di dalam Ash-shohihin disebutkan dan lafazd ini dari Muslim melalui Aisyah binti Thalhah, dari Aisyah Ummul Mukminin, dia berkata, “Orang yang lebih dulu bersua dengan ku ialah yang paling panjang tangannya diantara kalian”. Aisyah menuturkan, maka kamipun saling mengukur siapa diantara kami yang paling panjang tangannya, ternyata yang panjang tangannya adalah Zainab, karena dia biasa melakukan pekerjaan dengan tangannya sendiri dan juga banyak bershadaqah (bukan panjang tangan menurut dzahirnya).

Zainab juga sebagai perawi hadist Rasulullah saw sebanyak sebelas hadist sebagian diantaranya ditakhrij di As-Shahihain, dua hadist disepakati Al-Bukhari dan Muslim, adz-Dzahabi menyebutkan bahwa hadistnya disebutkan di Kutubus-sittah. Adapun yang meriwayatkan darinya ialah anak saudaranya yaitu Muhammad bin Abdullah Bin Jahsy, Ummul-Mukminin Ummu Habibah dan zainab bintu Abu Salamah.

Wallahu'alam






Kamis, 09 November 2017

Ramlah binti Abu Sufyan


(Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan Al-Qurasyiyyah)

Ummu Habibah yang mempunyai nama asli Ramlah binti Abu Sufyan. Lahir di tengah keluarga yang kental dengan ajaran nenek moyang dan memiliki ayah yang tidak lain adalah pemuka Quraisy, namun tidak kemudian hatinya tertutup untuk sebuah hidayah. Karena sejatinya, siapapun yang sudah diberi hidayah oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat mencegahnya. Pun sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki hidayah untuk seseorang maka tidak ada satupun yang bisa memaksanya. 

Ummu Habibah adalah satu contoh kebenaran pernyataan ini. Dengan ketegasannya, beriman kepada Allah dan RasulNya menjadi pilihan saat seruan itu sudah datang.

Abu Sufyan Shakh bin Harb, nama besarnya tidak asing bagi telinga bangsa Arab saat itu. Pembesar sekaligus bangsawan Quraisy yang memiliki kedudukan, kebesaran, dan pengaruh luar biasa di tengah kaumnya. Di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tampil dengan membawa agama yang sempurna, maka nama Abu Sufyan tercatat sebagai salah satu pemimpin Quraisy yang sangat besar permusuhannya terhadap Islam. Dia gunakan kekuasaan untuk memberikan tekanan bahkan siksaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya agar mereka mau kembali kepada agama nenek moyang mereka.

Tetapi semua itu sama sekali tidak membuat kaum muslimin gentar. Bahkan siapa yang menyangka kalau putrinya sendiri yang justru memporak-porandakan kebesaran namanya ketika sang putri meninggalkan agama berhala dan terang-terangan menyatakan keislaman dan keimanannya.

putri Abu Sufyan, Ramlah inti Abu Sufyan yang berani meninggalkan sesembahan ayah dan kaumnya lantas memilih agama Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika kebenaran telah tampak di hadapan matanya dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangi relung hatinya.

Tidak hanya itu, kenyataan pahit harus kembali diterima Abu Sufyan ketika menantunya, Ubaidillah bin Jahsy Al-Asadi, ikut menjadi pengikut Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam musuh besarnya selama ini. Semua itu menjadi pukulan besar bagi Abu Sufyan. Segala upaya dia kerahkan untuk membawa putri dan menantunya kembali kepada ajaran nenek moyangnya, tetapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Ummu Habibah radhiallahu’anha sedikitpun tidak bergeming dari prinsipnya, keimanan yang telah terhunjam di dalam hatinya tidak mampu dicabut dan digoyahkan dengan kekuatan serta badai kemarahan sang ayah.

~ Biodata

Nama Lengkap: Ramlah binti Shakhar bin Harb bin Unayyah bin Abdi Syams.
Tempat dan Tahun Lahir: Mekkah, 13 (tiga belas) tahun sebelum kerasulan Muhammad Shalalahu ‘Alaihi Wasallam. 
Ayahnya dikenal dengan sebutan: Abu Sufyan. 
Ibunya bernama: Shafiyyah binti Abil Ashi bin Umayyah bin Abdi Syams, yang merupakan bibi dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sahabat Rasulullah SAW.

~ Pernikahan, Hijrah, dan Penderitaannya

Ketika usia Ramlah sudah cukup untuk menikah, Ubaidillah bin Jahsy mempersunting- nya, dan Abu Sufyan pun menikahkan mereka. Ubaidillah terkenal sebagai pemuda yang teguh memegang agama Ibrahirn ‘alaihissalam. Dia berusaha menjauhi minuman keras dan judi, serta berjanji untuk memerangi agama berhala. Ramlah sadar bahwa dirinya telah menikah dengan seseorang yang bukan penyembah berhala, tidak seperti kaumnya yang membuat dan menyembah patung-patung. Di dalam hatinya terbesit keinginan untuk mengikuti suaminya memeluk agama Ibrahim ‘alaihissalam. 

Sementara itu, di Mekah mulai tersebar berita bahwa Muhammad datang membawa agama baru, yaitu agama Samawi yang berbeda dengan agama orang Quraisy pada umumnya. Mendengar kabar itu, hati Ubaidillah tergugah, kemudian menyatakan dirinya memeluk agama baru itu. Dia pun mengajak istrinya, Ramlah, untuk memeluk Islam bersamanya. Mendengar misi Muhammad berhasil dan maju pesat, orang-orang Quraisy menyatakan perang terhadap kaum muslimin. 

Hingga tiba saatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan izin kepada kaum muslimin untuk hijrah menuju Habasyah. Ummu Habibah radhiallahu’anha dan suaminya ikut masuk dalam barisan kaum muslimin yang hijrah. Mereka meninggalkan Mekah dan pergi menuju Habasyah, negeri asing di seberang untuk menyelamatkan agama dan keimanan mereka.

Sebuah ujian telah terlewati, Ummu Habibah radhiallahu’anha telah berhasil selamat dari penindasan kaumnya dan lepas dari jerat sang ayah. Udara kebebasan mulai dia rasakan. Kehidupan baru segera dia jelang bersama suaminya tercinta.

Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat yang berkuasa mengatur kehidupan hamba-Nya, tidak ada seorang pun yang mampu menebak ketetapan yang menjadi rahasia di sisi-Nya, dan tidak ada pula yang sanggup menolak takdir yang telah dituliskan-Nya. Tiba saatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak untuk kembali mendatangkan cobaan yang menguji keimanan dan kesabarannya.

Suatu malam ketika Ummu Habibah radhiallahu’anha telah terlelap di atas pembaringan, dia bermimpi melihat suaminya, Ubaidaullah bin Jahsy, dalam keadaan dan rupa yang amat buruk. Ummu Habbibah radhiallahu’anha terbaungan dengan perasaan terguncang dan khawatir. Dia menyimpan mimpi buruknya dan tidak menceritakannya kepada siapapun termasuk suaminya. Keesokan harinya, apa yang dia khawatirkan menjadi kenyataan.

Suaminya keluar dari Islam dan menjadi seorang Nasrani. Suami yang dicintainya, suami yang menemaninya berjuang mempertahankan agama, dan suami yang bersamanya melewati masa-masa mencekam di Mekah hingga sampai pada suasana aman di Habasyah. Tetapi kini…

Beberapa tahun tinggal di Habasyah, kaum muslimin sangat mengharapkan kesedihan akan cepat berlalu dan barisan kaum muslimin menjadi kuat, namun kesedihan belum habis. Kondisi itulah yang menyebabkan Ubaidillah memiliki keyakinan bahwa kaum muslimin tidak akan pernah kuat. Tampaknya dia sudah putus asa sehingga sedikit demi sedikit hatinya mulai condong pada agama Nasrani, agama orang Habasyah. 

Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membolak-balikkan hati hamba-Nya. Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang telah berfirman dalam kitab-Nya,

إِنَّكَ لاَتَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashahs: 56)

Terpampang tiga pilihan di hadapannya: menjalani hidup bersama sang suami dengan melepaskan keislamannya seraya menyandang kehinaan di dunia dan di akhirat, mempertahankan prinsipnya dengan tetap tinggal di Habasyah dalam keadaan terasing tanpa kerabat dan keluarga, atau memilih kembali ke Mekah menjadi putri bangsawan yang tinggal di dalam ‘istana’ di bawah naungan sang ayah, tetapi hidup dalam keadaan terjajah agamanya.

Untuk kesekian kali keteguhannya dalam memegang keislaman dan keimanan harus kembali teruji, dan untuk kesekian kalinya pula dia berhasil lulus dengan memilih jalan yang padanya terdapat ridha Ilahi. Ummu Habibah radhiallahu’anha bertekad untuk tetap tinggal di Habasyah menjalani hidup dalam keterasingan demi mempertahankan agamanya, dengan senantiasa berharap suatu saat nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kemudahan bagi urusannya, dan mendatangkan kelapangan dari sisi-Nya.

~ Menjadi Ummul-Mukminin

Ummu Habibah menceritakan mimpi dan kehidupannya yang suram. Dia berkata, “Dalam tidurku aku melihat seseorang menjumpaiku dan memanggilku dengan sebutan Ummul-Mukminin. Aku terkejut. Kemudian aku mentakwilkan bahwa Rasulullah akan menikahiku.” Dia melanjutkan, “Hal itu aku lihat setelah masa iddahku habis. Tanpa aku sadari seorang utusan Najasyi mendatangiku dan meminta izin, dia adalah Abrahah, seorang budak wanita yang bertugas mencuci dan memberi harum-haruman pada pakaian raja. Dia berkata, ‘Raja berkata kepadamu, ‘Rasulullah mengirimku surat agar aku mengawinkan kamu dengan beliau.” Aku menjawab, ‘Allah memberimu kabar gembira dengan membawa kebaikan.’ Dia berkata lagi, ‘Raja menyuruhmu menunjuk seorang wali yang hendak mengawinkanmu’. Aku menunjuk Khalid bin Said bin Ash sebagai waliku, kemudian aku memberi Abrahah dua gelang perak, gelang kaki yang ada di kakiku, dan cincin perak yang ada di jari kakiku atas kegembiraanku karena kabar yang dibawanya.” 

Persiapan pernikahan segera dilakukan hingga tiba di hari yang telah dinantikan. Semua sahabat yang hijrah berkumpul menyaksikan akad pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ummu Habibah. Najasy menyerahhkan mahar sebesar empat ratus dinar. Mahar itu kemudian diterima oleh Kholid bin Sa’id bin Al-Ash (wakil Ummu Habibah radhiallahu’anha dalam akad pernikahan ini).

Jalinan akad pernikahan ini telah menempatkan Ummu Habibah radhiallahu’anha pada derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat. Sebuah kedudukan yang pantas diterima bagi setiap hamba yang bersabar di jalan-Nya, dan bagi setiap hamba yang mengutamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada selainnya.

Setelah akad nikah ini, Ummu Habibah radhiallahu’anha tetap tinggal di Habasyah. Hingga pada tahun ke-6 Hijriah, sang pengantin kembali ke Madinah, bertemu dengan kekasih yang dirindukannya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berita pernikahan Ummu Habibah dengan Rasulullah merupakan pukulan keras bagi Abu Sufyan. Tentang hal itu, Ibnu Abbas meriwayatkan firman Allah, “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. …“ (QS. Al-Mumtahanah: 7). Ayat ini turun ketika Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. menikahi Ummu Habibah binti Abi Sufyan.

~ Hidup bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

Istri-istri Rasulullah lainnya menyambut Ummu Habibah dengan hangat dan rasa hormat dan perjalanan hidup Ummu Habibah di tengah keluarga Rasulullah tidak banyak menimbulkan konflik antar istri atau mengundang amarah beliau. Selain itu, belum juga ada riwayat yang mengisahkan tingkah laku Ummu Habibah yang menunjukkan rasa cemburu.

~ Akhir sebuah Perjalanan

Setelah Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. wafat, Ummu Habibah hidup menyendiri di rumahnya hanya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kejadian fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, dia tidak berpihak kepada siapa pun. Bahkan ketika saudaranya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, berkuasa, sedikit pun dia tidak berusaha mengambil kesempatan untuk menduduki posisi tertentu. Dia juga tidak pernah menyindir Ali bin Abi Thalib lewat sepatah kata pun ketika bermusuhan dengan saudaranya itu. Dia pun banyak meriwayatkan hadits Nabi yang kemudian diriwayatkan kembali oleh para sahabat. Di antara hadits yang diriwayatkannya adalah: “Aku mendengar Rasulullah bersabda. 

“Barang siapa yang shalat sebanyak dua belas rakaat sehari semalam, niscaya Allah akan membangun baginya rumah di surga.’ Ummu Habibah berkata, “Sungguh aku tidak pernah meninggalkannya setelah aku mendengar dari Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam.” (HR. Muslim). 

Ummu Habibah radhiallahu’anha, senantiasa mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga beliau wafat. Dan pada tahun 44 Hijriah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak memanggil ruh wanita mulia ini kembali ke sisi-Nya.

Jenazahnya dikuburkan di Baqi’ bersama istri-istri Rasulullah yang lain. Semoga Allah memberinya kehormatan di sisi-Nya dan menempatkannya di tempat yang layak penuh berkah. Amin.

Ummu Habibah radhiallahu’anha telah tiada, namun keindahan kisah hidupnya akan senantiasa menghiasi lembaran catatan sejarah manusia, dan keteguhannya dalam menjaga agama menjadi pelajaran besar bagi siapa saja yang mau mengambilnya. Maka renungkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya yang mulia,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُونَ {2} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ {3}

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) menyatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)


Kisah Ramlah binti Abu Sufyan patut menjadi panutan kita di tengah hiruk- pikuk dunia ini. Saat harta dan jabatan dirasa lebih mulia dibandingkan keistiqamahan. Kisah ini juga memberi pelajaran bagi kita ternyata Allah tidak akan memberi beban kepada kita jika kita tidak sanggup. 

Oleh karena itu, apapun yang kita hadapi saat ini, semua itu adalah bukti Allah cinta pada kita. Allah ingin kita lebih dekat denganNya, setelah selama ini mungkin kita hidup di bawah kesenangan yang melalaikan kita. Kita pun belajar bahwa kita perlu memiliki prinsip. Karena bagaimanapun keadaan kita kelak di hadapanNya tergantung pada keputusan kita hari ini. Semoga Allah selalu meneguhkan hati kita hingga selalu condong pada kebenaran dan ketaatan padaNya.

Wallahu a’lam bish-showab

Sabtu, 28 Oktober 2017

Khadijah binti Khuwailid


Khadijah adalah Ummul Mukminin istri Rasulullah yang pertama, wanita pertama yang mempercayai risalah Rasulullah, dan wanita pertama yang melahirkan putra-putri Rasulullah. Beliau merelakan harta benda yang dimilikinya untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Dialah orang pertama yang mendapat kabar gembira bahwa dirinya adalah ahli surga.

Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah al-Kubra, anak perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za'idah, berasal dari kabilah Bani Asad dari sukuQuraisy. Ia merupakan wanita as-Sabiqun al-Awwalun. 

Khadijah binti Khuwailid adalah sebaik-baik wanita ahli surga. Ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Sebaik-baik wanita ahli surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.”

Khadijah lahir sekitar tahun 555/565/570, beliau berasal dari golongan pembesar Mekkah. wanita bangsawan, cantik, hartawan, dan budiman.. 

Khadijah bisa hidup mewah dengan hartanya sendiri.Suami pertama Khadijah adalah Abu Halah at-Tamimi, yang wafat dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Pernikahan kedua Khadijah adalah dengan Atiq bin Aidz bin Makhzum, yang juga wafat dengan meninggalkan harta dan perniagaan. Dengan demikian, Khadijah menjadi orang terkaya di kalangan suku Quraisy.

Karena keutamaan ãkhlak dan sifat terpujinya,kalangan Quraisy memberikan penghargaan dan penghormatan yang tinggi kepada Sayyidah Khadijah dengan julukan wanita suci. 

Pernikahanya dengan Rosulullah

Menikah dengan Nabi Muhammad, ketika berumur 40 tahun, manakala Nabi Muhammad berumur 25 tahun.

Dalam garis silsilah nasab, Ayah beliau bertemu dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek yang ke empat yaitu Qusai bin Kilab, sedangkan ibunya bertemu dalam silsilah keturunan bersama Nabi pada kakeknya yang kedelapan yaitu Lu’ay bin Ghalib.

Muhammad bin Abdullah adalah seorang pemuda dari Kaum Quraisy yang wara, takwa, dan jujur. Sejak usia lima belas tahun, Muhammad bin Abdullah telah diajak oleh Maisarah untuk menyertainya berdagang.

Selama berniaga dengan Muhammad bin Abdullah, Maisarah sering mendapat keuntungan yang sangat besar akibat dari kejujuran Muhammad dalam berdagang. Selain itu selama berniaga, dia melihat gulungan awan tebal yang senantiasa mengiringi Muhammad yang seolah-olah melindungi beliau dari sengatan matahari. Dia pun mendengar seorang rahib yang bernama Buhairah, yang mengatakan bahwa Muhammad adalah laki-laki yang akan menjadi nabi yang ditunggu-tunggu oleh orang Arab sebagaimana telah tertulis di dalam Taurat dan Injil. Semua hal tersebut diceritakan Maisarah kepada Khadijah.

Mendengar cerita dari Maisarah,  menimbulkan kecenderungan perasaan Khadijah terhadap Muhammad, sehingga dia menemui anak pamannya, Waraqah bin Naufal. Waraqah mengatakan bahwa akan muncul nabi besar yang dinanti-nantikan manusia dan akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Allah. Penuturan Waraqah itu menjadikan niat dan kecenderungan Khadijah terhadap Muhammad semakin bertambah, sehingga dia ingin menikah dengan Muhammad. Setelah itu dia mengutus Nafisah, saudara perempuan Ya’la bin Umayyah untuk meneliti lebih jauh tentang Muhammad, sehingga akhirnya Muhammad diminta menikahi Khadijah.

Khadijah lah yang lebih dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Muhammad, yang pada saat itu bangsa Arab jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang pria dan semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah Binti Munyah, 'Atiqah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad (SAW) yaitu Abu Thalib. 

Keluarga terdekat Khadijah tidak menyetujui rencana pernikahan ini. Namun Khadijah sudah tertarik oleh kejujuran, kebersihan dan sifat-sifat istimewa Muhammad ini, sehingga ia tidak memedulikan segala kritikan dan kecaman dari keluarga dan kerabatnya. 

Khadijah yang juga seorang yang cerdas, mengenai ketertarikannya kepada Nabi Muhammad mengatakan, Jika segala kenikmatan hidup diserahkan kepadaku, dunia dan kekuasaan para raja Persia dan Romawi diberikan kepadaku, tetapi aku tidak hidup bersamamu, maka semua itu bagiku tak lebih berharga daripada sebelah sayap seekor nyamuk.

Peristiwa pernikahan Muhammad (SAW) dengan Khadijah (r.a) berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad. Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.

Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad , tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.

Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat. “Semoga Allah memberkati pernikahan ini.Nabi menikah bersamanya dengan mahar dua puluh unta betina’

Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah (r.a) membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !

Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 8) Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.

Khadijah yang istimewa

Imam adz-Dzahabi mengatakan tentang beliau: ‘Khadijah Seorang yang sangat berakal lagi terhormat, teguh beragama, terjaga dari sifat keji lagi mulia, yang termasuk penghuni surga. Adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa memujinya dan mengutamakan dirinya dari semua istri-istrinya. Sehingga beliau sangat mengaguminya, sampai kiranya Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: ‘Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap madu yang lainnya melebihi kecemburuanku pada Khadijah, dikarenakan saking seringnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebut-yebut dirinya’. 

Dari penuturan Aisyah, Nabi selalu menyebut nama Khadijah setiap hari sebelum keluar rumah. Aisyah yang cemburu mengatakan,

"Bukankah? ia hanya seorang tua bangka? Sungguh Allah telah memberimu ganti yang baik," kata Aisyah. 

Nabi sangat marah sampai rambutnya bergetar, Nabi menjawab "Tidak, Demi Allah tidak ada ganti yang lebih baik daripadanya. Dia beriman ketika semua ingkar. Ia membenarkanku kala semua orang mendustakanku. Ia mencurahkan hartanya ketika orang lain tidak. Darinya Allah mengaruniakan aku anak dan perempuan lain tidak," 

Sejak itu Aisyah tidak lagi menyinggung tentang Khadijah dan menyadari keutamaan Khadijah. Tidak sampai situ, semua yang berhubungan dengan Khadijah, Rasulullah pasti memuliakannya, seperti memberikan bagian sembelihan terbaik kepada sahabat dan keluarga Khadijah. 

Bahkan suatu kali, hati Nabi berdetak cepat dan gemetar saat dirinya mendengar suara yang amat mirip dengan suara Khadijah. "Ya, Allah ternyata Halah," dikutip dari Shahih Bukhari

Halah adalah saudari Khadijah yang datang bertamu kepada Nabi. Lantas Nabi langsung menyambutnya dengan hangat. 

Setelah hijrah, Rasulullah pun kembali ke Mekkah dan mendirikan tenda pasukan di seberang Gunung Hajun. "Khadijah, Khadijah sedang berbaring di sini...," kata Nabi saat ditanya sahabat.

Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.

Dalam banyak kegiatan peribadatan Nabi Muhammad, Khadijah pasti bersama dan membantunya, seperti menyediakan air untuk mengambil wudhu. Nabi Muhammad menyebut keistimewaan terpenting Khadijah dalam salah satu sabdanya, “Di saat semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihkanku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku.”

Sewaktu malaikat turun membawa wahyu kepada Muhammad maka Khadijah adalah orang pertama yang mengakui kenabian suaminya, dan wanita pertama yang memeluk Islam. Dia turut menenangkan hati Rasulullah, di kala kegalauan Nabi sewaktu wahyu pertama turun. Khadijah (r.ha) berkata, Tidak demikian, tetapi bergembiralah. Maka demi Allah, Allah takkan Mencelakakan engkau selamanya; engkau suka menyambungkan tali silaturahim, dan selalu jujur dalam bicara, meringankan derita orang lain, menyantuni orang tak mampu, menjamu tamu, dan menolong orang lain untuk mendapatkan haknya.

Sepanjang hidupnya bersama Nabi, Khadijah begitu setia menyertainya dalam setiap peristiwa suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira’, ia pasti menyiapkan semua perbekalan dan keperluannya. Seandainya Nabi Muhammad agak lama tidak pulang, Khadijah akan melihat untuk memastikan keselamatan suaminya. Sekiranya Nabi Muhammad khusyuk bermunajat, Khadijah tinggal di rumah dengan sabar sehingga Beliau pulang. Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, dia coba sekuat mungkin untuk mententram dan menghiburkan, sehingga suaminya benar-benar merasa tenang. Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama.

Keturunan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam 

Setelah menikah dengan Nabi Muhammad SAW, Khadijah melahirkan dua orang anak laki-laki, yaitu Qasim dan Abdullah serta empat orang anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Seluruh putra dan putrinya lahir sebelum masa kenabian, kecuali Abdullah. Karena itulah, Abdullah kemudian dijuluki ath-Thayyib (yang balk) dan ath-Thahir (yang suci).

Wafatnya

Setelah berbagai upaya gagal dilakukan untuk menghentikan dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, baik itu berupa rayuan, intimidasi, dan penyiksaan, kaum Quraisy memutuskan untuk memboikot dan mengepung kaum muslimin dan menulis deklarasi yang kemudian digantung di pintu Ka’bah agar orang-orang Quraisy memboikot kaum muslimin, termasuk Rasulullah, istrinya, dan juga pamannya. Mereka terisolasi di pinggiran kota Mekah dan diboikot oleh kaum Quraisy dalam bentuk embargo atas transportasi, komunikasi, dan keperluan sehari-hari lainnya.

Beberapa hari setelah pemboikotan, Abu Thalib jatuh sakit, dan semua orang meyakini bahwa sakit kali mi merupakan akhir dan hidupnva. Abu Thalib meninggal pada tahun itu pula, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.

Pada tahun yang sama, Sayyidah Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan karena pemboikotan itu. Semakin hari, kondisi badannya semakin menurun, sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam semakin sedih. 

DETIK - DETIK WAFATNYA UMMUL MUKMININ KHADIJJAH R.HA

Dalam kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani disebutkan, istri Rasulullah Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW, “Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

Rasulullah menjawab, “Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung da’wah Islam sepenuhnya”.

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik, “Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku”

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”
Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit membawa lima kain kafan. Rasulullah bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Khadijah, engkau ya Rasulullah, Fatimah, Ali dan Hasan.”, jawab Jibril.

Jibril berhenti dan menangis. Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan.”

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Khadijah istrku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kamu hibahkan untuk Islam. Kaun muslimin ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini darimu. Permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?”

“Ya Allah, ya Ilahi rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah.

Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”
Tiba-tiba Ali berkata, “Aku, Ya Rasulullah!”

Peristiwa wafatnya Khadijah itu sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedih perasaan Rasulullah ditinggal dua orang sangat dicintai dan mendukung perjuangannya menegakkan Islam.

Dalam kisah lain diceritakan:
Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada suaminya, kepada Nabi s.a.w untuk perjuangan agama ini. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah milik Khadijah. 

Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat tidak ada kafan yang digunakan untuk menutupi jasad Khadijah bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Dikisahkan, suatu hari Nabi s.a.w pulang dari pada dakwah islam, ketika pulang masuk ke dalam rumah, biasa Khadijah menyambut, berdiri di depan pintu, ketika Khadijah hendak berdiri menyambut Nabi s.a.w berkata, “wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu”. Ketika itu Khadijah sedang menyusukan Fatimah yang ketika itu masi bayi.

Begitu besar pengorbanan Nabi dan Khadijah untuk agama ini, untuk bagaimana hari ini kita mengenal Allah Ta’ala, untuk bagaimana hari ini kita mengenal Sholat. Seluruh kekayaan mereka telah habis sehingga ketika Fatimah menyusu bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang keluar yang masuk dalam mulut Fatimah RA. Maka Nabi s.a.w telah mengambil ini Fatimah dan diletakkan di tempat tidur. Gantilah Nabi s.a.w berbaring di pangkuan Khadijah yang lelah seusai berjumpa dengan manusia dalam berdakwah dengan menghadapi caci maki , fitnah manusia ketika itu. 

Nabi tertidur, ketika itulah Khadijah dengan belaian kasih sayang membelai kepala Nabi s.a.w.. tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Nabi s.a.w. Nabi pun terjaga..
“wahai Khadijah. Kenapa engkau menangis?”. “adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?”. “Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan..”. “..tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauhi dirimu”. “seluruh kekayaanmu habis”. “Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad..?”.
Khadijahpun berkata “Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah”. “Bukan itu yang kutangiskan”. “Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan RosulNya”. “Dahulu aku memiliki kebangsawana, kebangsawanan itu aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”. “Dahulu aku memiliki harta kekayaan, seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”. “wahai Rosululloh”. “sekarang aku tak punya apa-apa lagi”. “Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini”. “wahai Rosululloh.. sekiranya aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, Engkau hendak menyebarangi sungai dan engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan, maka Engkau galilah lubang-lubang kuburku, kau galilah kuburku, engkau ambilah tulang belulangku, kau jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu untuk jumpa dengan manusia. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, Ingatkan mereka kepada yang hak, ajak mereka kepada Islam, wahai Rosululloh”.

Seorang Nabi yang agung, seorang istri yang agung , suami istri berpelukan sambil menangis memikirkan agama ini. Allahuakbar..
Karena itu, peristiwa wafatnya Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

Khadijah telah hidup bersama-sama Nabi Muhammad selama 24 tahun dan wafat pada 10 Ramadan, dalam usia 64 tahun 6 bulan. Khadijah dikuburkan di dataran tinggi Mekah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.Tahun meninggalnya dikenal sebagai Amul Huzni (Tahun Kesedihan).

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sendiri yang mengurus jenazah istrinya dan kalimat terakhir yang beliau ucapkan ketika melepas kepergiannya adalah: “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.”